Seputar Ekonomi
Orang desa ngomongin ekonomi kerakyatan
Sabtu, 20 Desember 2025
Jumat, 30 September 2016
Kisruh Harga Daging Sapi, Bagaimana dengan Masyarakat Miskin?
Daging,
ternyata sampai sejauh ini sangat istimewa di mata sebagian besar masyarakat
Indonesia. Semua jenis daging, baik daging ayam maupun daging sapi merupakan
menu yang teramat mewah bagi kalangan bawah atau kaum miskin papa. Mereka sama
sekali tidak berfikir berapa sih harga daging? Atau esok ingin makan rendang,
misalnya. Yang ada dalam fikiran mereka bagaimana bisa mencukupi kebutuhan
makanan ala kadarnya.
Tak peduli lagi berapapun harga daging yang beredar saat
ini. Semua serasa cuex bebek, tak menganggap sebagai masalah krusial. Karena
faktanya jika kita selusuri lebih jauh kemampuan masyarakat kelas bawah dari
segi ekonomi tentu amat jauh berbeda dibandingkan dengan masyarakat menengah ke
atas. Jangankan memikirkan harga daging yang mahal, bisa menikmati ikan asin
atau telur saja sudah cukup.
Bukan berarti mereka tidak suka makan daging, tapi
karena ketiadaan ekonomi yang memaksa mereka gigit jari dan cukup menahan diri
untuk tidak memikirkan sesuatu yang tidak mungkin mereka nikmati. Paling tidak untuk
saat ini hanyalah menu sederhana plus ikan laut yang harganya lumayan miring
dibandingkan dengan harga daging sapi.
Harga ikan asin yang berkisah Rp 15.000
- 30.000 perkilogram, dan ikan laut segar berkisah Rp 25.000 juga masih
dianggap mahal. Tapi hanya ikan-ikan jenis inilah yang menjadi menu andalan.
Dan yang lebih parah lagi ada yang hanya bisa menikmati lauk tempe dan sayuran
daun singkong sebagai menu utama, lantaran hanyalah itu bahan baku menu makan
inilah yang bisa mereka nikmati saat ini.
Dengan estimasi harga di atas seratus
ribu saat ini tentu menjadi makanan mahal bagi yang berkantung tipis.
Seandainya diturunkan harganya sampai Rp 80.000 pun masih terlalu mahal.
Bagaimana tidak mahal, untuk pekerja bangunan dengan gaji harian rata-rata Rp 80.000
tentulah hanya bisa dibelikan satu kg jika memang harga dagingnya Rp 80.000.
Bagaimana jika harga itu melambung hingga Rp 150.000, maka lebih baik mereka
membeli tempe daripada untuk membeli beras tidak ada lagi. Seandainya ingin
menikmati daging sapi atau kambing, kemungkinan besar mereka lebih memilih
membeli sate atau bakso dengan kualitas daging yang rendah. Dengan harga Rp
15.000, kaum miskin bisa menikmati daging sapi dalam bulatan bakso meskipun
percampuran antara tepung dan daging 10 : 1. Sepuluh kilo untuk tepung dan 1
kilo untuk daging. Sudah begitu agar rasanya bisa nonjok, maka diberikanlah
perasa daging yang banyak dijual bebas. Jadilah masyarakat miskin bisa
menikmati daging bohongan sedangkan harga daging yang mahal hanya jadi suara-suara
orang-orang kaya yang mampu membelinya.
Bagaimana kondisi per-dagingan saat
ini?
Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, Presiden Jokowi sudah merencanakan
dan membuat kebijakan harga daging sapi tidak boleh melebihi Rp 80.000 per
kilogram. Meskipun faktanya sampai detik ini, harga yang diinginkan pun masih
sebatas angan-angan. Berbeda sekali dengan di Malaysia, harga daging sapi
kisaran Rp 50.000 perkilogram. Jadi masih kalah jauh pemerintah saat ini mampu
menekan harga daging.
Meskipun demikian, salut kepada Presiden yang sudah
berusaha menurunkan harga dengan operasi pasar. Meskipun dampaknya kran import
tidak dapat dielakkan.
Swasembada daging yang dicanangkan Presiden akan
terpenuhi ternyata juga belum tercapai. Karena memang mengelola ketersediaan
daging dalam negeri bukan seperti membuat bakso. Sekali penyet keluar baksonya.
Ini jelas berbeda, masyarakat harus siap-siap menjadi peternak unggul agar
mereka bisa membudidayakan sapi dengan kualitas minimal setara dengan peternak
dari Australia.
Selain tidak mudahnya menyiapkan tenaga ahli dan peternak
unggul, ketersediaan sumber daya atau daya dukung juga masih minimal. Ada
kesiapan penuh dari aparat daerah untuk bekerja sinergi dengan pemerintah pusat
dalam menyiapkan infrastruktur dan SDM di daerah demi lancarnya program
swasembada daging.
Faktor lain yang sulitnya memenuhi harapan rakyat terkait
kemampuan memproduksi daging nasional adalah, karena tingkat kejujuran dan
kemauan masyarakat yang relatif rendah. Misalnya beberapa waktu lalu di jaman
presiden sebelumnya, sudah ada program bantuan sapi yang tujuannya membantu
masyarakat desa. Pada awal program baik-baik saja, tapi setelah kurun waktu
beberapa tahun, ternyata bantuan sapi itu tidak ada lagi keberadaannya.
Peternak lokal yang dianggap mampu membudidayakan sapi juga ternyata hanya
isapan jempol belaka. Meskipun ada yang berhasil, hampir sebagian besar
mengalami kegagalan, faktornya : ketersediaan lahan untuk pakan ternak,
kemampuan memproduksi pakan secara modern, kondisi ekonomi.
Ketersediaan lahan
menjadi alasan mengapa program sapi nasional selalu saja terkendala, karena
petani daerah untuk membuka lahan yang dipakai untuk pakan mereka tentu
keberatan. Dengan luas 1 hektar, petani lebih memilih menanam padi dan singkong
daripada menanam rumput, baik rumput gajah maupun rumput lainnya.
Kemampuan
memproduksi pakan secara modern juga bukan hanya sebatas teori, karena SDM pun
harus ditingkatkan, ketersediaan mesin pencacah pakan dan kemitraan dengan
perkebunan sawit, kelapa maupun pengembangan rumput gajah juga menjadi kendala.
Kondisi ekonomi yang memaksa para peternak itu gagal melanjutkan usahanya
karena mereka terlilit persoalan ekonomi. Misalnya dari 10 ekor yang dibagikan,
ternyata hanya 5 ekor saja yang selamat dan selebihnya terjual atau dengan alasan
mati dan dicuri orang.
Belum lagi masyarakat lebih mengidolakan bercocok tanam
padi dan singkong daripada menanam rumput untuk ternak-ternak mereka. Sikap
konvensional inilah yang melemahkan program sapi nasional yang dicanangkan oleh
presiden-presiden sebelumnya termasuk presiden Jokowi tentunya.
Harga daging
sapi mahal, siapa yang peduli?
Sampai sejauh ini, hingga bulan Ramadhan tiba,
harga daging masih tetap dikisaran Rp 100.000 - Rp 130.000, meskipun daging
impor dan operasi pasar sudah dilakukan. Hal ini wajar terjadi karena meskipun
import daging sudah dilakukan, ternyata pemenuhan kebutuhan daging masih jauh
dari kenyataan. Selain itu dengan harga mahal itu, hanyalah masyarakat menengah
ke atas yang bisa menikmatinya.
Belum lagi adanya operasi pasar, ternyata yang
bisa membeli hanyalah kaum kaya yang mereka mendapatkan kesempatan lebih untuk
memborong karena harganya sudah diturunkan. Meskipun esoknya lagi harga
cenderung naik, yang memiliki cukup uang tetap saja bisa membeli. Sedangkan
masyarakat bawah, mereka hanya bisa menonton dari kejauhan tanpa bisa menikmati
subsidi pemerintah yang dikucurkan untuk menekan harga daging. Dan sayang
sekali meskipun ada juga daging sapi yang lebih murah, ternyata banyak oknum
pedagang nakal yang mencampurnya dengan daging babi. Sungguh miris.
Seperti
diberitakan oleh Republika edisi 27 Mei 2016, harga di Lampung kisaran Rp
100.000 - Rp 125.000 perkilogramnya. Sedangkan harga itu belum tertekan dengan
adanya operasi pasar. Meskipun adanya operasi pasar, ternyata harga di Lampung
juga saat ini masih tinggi. Seperti diberitakan oleh Antara, harga per 17 Juni
kisaran antara Rp 110.000 - Rp 120.000 perkilogram. Berarti sampai sejauh ini
pemerintah masih sulit menekan harga daging sapi skala nasional. Sedangkan harga
telur ayam saja sudah mencapai 20.000 perkilogram tentu harga ini masih sangat
jauh dari harapan masyarakat pada umumnya.
Harga daging turun, masyarakat bawah
tetap saja tidak bisa membeli, dan siapa yang diuntungkan? Tentu mereka yang
memiliki uang cukup untuk membelinya yaitu kaum kaya dan para pedagang yang
sudah mempersiapkan modal jauh-jauh hari agar bisa mendapatkan keuntungan yang
lebih. Pemerintah selalu menekan harga daging demi memenuhi harapan rakyat,
tapi tetap saja harganya cenderung melambung tinggi. Dan hanya masyarakat
menengah ke atas yang mampu membelinya.
Meningkatkan daya beli ikan laut
sebagai alternatif pengganti daging sapi
Beberapa waktu lalu saya membeli
sekantung kecil berisi setengah kiloan ikan bandeng seharga Rp 7.500. Harga itu
lumayan murah untuk dua kali mempersiapkan santap berbuka puasa. Dan sepertinya
jika harga di tingkat pengecer untuk ukuran perkilogram seharga Rp 15.000 tentu
harganya masih terjangkau dan lebih mudah dibandingkan harga telur yang bisa
mencapai 20.000 / kg. Harga ikan itu sudah ada di tangan pengecer. Mungkin jika
di pasar jauh lebih murah kisaran Rp 10.000 - Rp 12.000 perkilogram.
Melihat
harga ikan yang begitu murah tentunya bisa menjadi alternatif masyarakat bawah
untuk memenuhi kebutuhan gizi hariannya. Tak perlu memikirkan berapa harga
daging sapi karena justru membuat naik darah, lantaran masyarakat bawah tetap
saja tak mampu membeli. Namun bagaimana menyediakan ikan laut segar yang mudah
dengan kandungan gizi yang tak kalah dengan daging justru menjadi alternatif
yang lebih baik. Dan yang lebih penting, mengubah imej masyarakat bahwa memakan
ikan itu tak lebih buruk dari memakan daging jika dilihat dari nilai gizinya.
Dan yang semestinya digaris bawahi bahwa amat tidak penting banget media dan
pemerintah meributkan harga daging yang mahal, ketika ikan laut di tanah air
sangat melimpah. Jika ikan laut itu disubsidi dibandingkan mensubsidi daging
sapi maka masyarakat Indonesia akan menikmati ikan laut yang segar dengan harga
yang murah. Salam
Selasa, 06 Oktober 2015
Beras Raskin, Ketika Kaum Berada Mengaku Miskin
Beberapa waktu lalu, sembari berbincang-bincang dengan salah satu tokoh masyarakat di kampung, terucap sebuah kesan yang cukup menggelitik bagi fikiran dan hati saya terkait beras raskin. Apa itu? ternyata jumlah masyarakat penerima beras raskin selalu bertambah dan tak berkurang selama bertahun-tahun. Sang tokoh inipun bercerita bahwa ternyata penerima beras raskin yang dahulunya memang benar-benar miskin, ternyata ketika saat ini kehidupan mereka sudah mapan, status mereka tetap tidak berubah. Yakni masih saja dilabeli miskin dan menerima beras rangsum dari pemerintah ini.
Tentu saja, kesan yang saya tangkap ini menyiratkan bahwa selama ini pemerintah dalam menggelontorkan dana bagi penerima beras raskin, ternyata sudah salah sasaran. Masyarakat yang dahulunya amat pantas menerima beras bagi kaum tak punya ini sampai saat ini masih saja menjadi pelanggan. Padahal ketika di crossceck mereka yang "mengaku" sebagai kaum miskin sejatinya sudah mengalami perubahan status ekonomi. Meskipun tidak tergolong kaya, tapi kehidupan mereka sudah berubah. Dari yang tadinya berubah bambu, kini rumah mereka sudah berdinding bata dan sudah berkeramik. Adapula di antara mereka yang sudah memiliki kendaraan pribadi bahkan memiliki mobil. Tapi sayang sekali status miskin ini tak juga dikoreksi. Padahal ketika kebutuhan akan bantuan beras rakyat miskin ini tidak dikoreksi, maka sudah dapat dipastikan pengeluaran negara (APBN) bagi pemenuhan permintaan beras tak tepat sasaran. Rakyat yang sejatinya seharusnya tidak "memiskinkan" diri, ternyata masih saja mengaku-ngaku miskin lantaran mendapatkan jatah beras beberapa kilogram ini.
Sebuah kontra diksi dan kontra produktif terkait kebijakan pemerintah yang hendak mengentaskan kemiskinan dan mengurangi beban negara terkait penerima "beras jatah" ini.
Hal ini tentu tidak sejalan dengan pernyataan Menko Kesra bahwa
"Tindak lanjut dari rekomendasi KPK, maka, pemutakhiran Basis Data Terpadu oleh Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) merupakan upaya penajaman sasaran program. Kita menyadari bahwa ketepatan sasaran adalah faktor kunci keberhasilan program penanggulangan kemiskinan. Keyakinan ini memerlukan itikad dan dukungan seluruh pelaksana di pusat dan daerah dari mulai penetapan data sasaran dan pengawasan pada saat penyaluran. Sejalan dengan upaya penajaman sasaran, Pedoman Umum (Pedum) Raskin ini hendaknya menjadi acuan dalam pelaksanaan penyaluran Raskin tahun 2015" (Kata Pengantar Menko Kesra dalam Pedoman Umum Raskin 2015)
Pemerintah sejatinya dan semestinya sudah semakin ringan dengan meningkatnya status sosial masyarakat, ternyata sejauh ini masih saja dibebani dengan pengeluaran yang semestinya diperhitungkan lagi dan harus diarahkan pada hal yang lebih penting dari itu semua. Bolehlah beras raskin tetap diberikan, tapi semestinya data-data penerima jatah pun harus di-update ulang sehingga tidak ada kesan menggunakan uang negara pada hal yang tidak sepatutnya.
![]() |
| Tumpukan beras Raskin yang siap disalurkan (beritadaerah.com) |
Ada yang salah dalam hal ini. Dan setelah saya telusuri semakin dalam ternyata ada beberapa point mengapa kebutuhan beras raskin tak juga menurun?
Pertama, selaku pelaksana kebijakan di tingkat daerah, kelurahan selama ini kurang jeli ketika berhadapan dengan data-data kemkinan di daerahnya. Hal ini disebabkan karena ujung tombak data yang sejatinya merupakan hasil evaluasi di tingkat RW dan RT masih saja belum diperbaruhi secara optimal, Dampaknya orang-orang yang beberapa tahun lalu memang dimasukkan dalam kategori miskin, hingga sepuluh tahun kemudian ternyata masih saja dianggap miskin. Padahal kehidupan mereka sudah berubah. Ada yang awalnya berumah geribik, saat ini hampir 90% rumah-rumah mereka berdinding batu bata. Belum lagi kepemilikan kendaraan yang menunjukkan status sosial masyarakat ini pun tidak termasuk dalam skala penilaian, apakah mereka pantas disebut miskin, menengah atau kaya.
Fakta inilah yang menjadi pemicu awal, data-data yang semestinya diperbaiki dan disaring kembali siapa saja yang berhak menerima ternyata masih saja sulit diperoleh data yang valid. Kembali pada lemahnya kontrol masyarakat dan aparat desa dalam melakukan update data.
Kedua, para aparat desa, sampai sejauh ini masih saja mengandalkan rasa tahu sama tahu dan sama rata. Mereka beranggapan bahwa ketika satu keluarga menerima beras raskin, maka sepatutnya semua masyarakat bisa merasakannya. Padahal semestinya hanyalah orang-orang yang miskin dan berhak mendapatkan saja yang masuk ketegori penerima. Kadang tak bisa dipungkiri, ada tekanan publik yang mengharuskan aparat di tingkat desa tak mau ambil pusing, daripada dicecar masyarakat karena dianggap tak adil, mereka lebih memilih menuruti apa mau masyarakat.
Jika kebijakan untuk rakyat miskin ternyata bermodalkan sama rasa, tentu efeknya kurang baik. Masyarakat yang sejatinya sudah harus menolak beras bantuan ini ternyata masih saja merasa berhak menerima. Mereka tak berpikir bahwa ada yang lebih membutuhkan bahan pangan pokok ini dibandingkan dirinya yang sudah mampu.
Tekanan publik yang "haus" akan beras bantuan juga menjadi pemicu kenapa kebijakan beras raskin ini tidak juga tepat sasaran.
Ketiga, BPS selaku basis data pokok terkait data kependudukan dan ekonomi masyarakat juga sampai saat ini masih jauh panggang dari api. Ada ketidak singkronan antara data yang dikeluarkan dengan fakta di lapangan. Sehingga dampaknya alokasi pengeluaran beras yang diajukan kepada pemerintah pun masih memerlukan evaluasi lagi yang lebih menyeluruh.
Jika stake holder terkait kebijakan beras raskin ternyata masih mengeluarkan data-data yang "kurang" valid, semestinya ditinjau ulang dan dilakukan editing agar permintaan kebutuhan akan beras bagi warga kurang mampu ini tidak tepat sasaran.
Karena sejalan dengan tujuan dari beras raskin adalah mengurangi beban pengeluaran Rumah Tangga Sasaran melalui pemenuhan sebagian kebutuhan pangan beras. Sehingga data per tahun 2015 ini sejumlah 5.530.897 RTS benar-benar akurat. Dan tidak ada lagi masyarakat yang tidak layak menerima dengan mudahnya menerima beras ini dengan melupakan hak-hak kaum miskin lainnya.
Dampaknya, jika data pengeluaran 15 kg tiap bulan untuk RTS yang menjadi sasaran beras miskin ini benar-benar valid, maka akan banyak program pemerintah yang bisa dibantu dan mendapatkan alokasi dana yang lebih penting daripada memenuhi kebutuhan masyarakat yang sebenarnya mampu secara finansial tapi tetap saja merasa miskin.
Salam
Senin, 20 April 2015
Ironi Pemblokiran Situs MMM dan Kasus Pembobolan Bank
![]() |
| Situs MMM yang diblokir oleh Kominfo (economy,okezone.com) |
Dunia bisnis keuangan sampai saat ini belum juga menuai kepuasan para
pelakunya, dus bisnis perbankan yang notabene sebagai usaha yang paling
aman menurut OJK, ternyata sampai sejauh ini masih jauh panggan dari
api. Para nasabah yang semula menggunakan jasa penyimpanan uang di bank,
kini kembali dikejutkan oleh dibobolnya tiga bank yang bernilai
milyaran rupiah. Apa kata nasabah melihat fenomena aneh ini? Tentu tak
jauh-jauh dari kesan KECEWA, meskipun saya bukanlah seorang nasabah dan
bankir, tapi melihat fenomena ini saya pun jadi ketar-ketir ketiak ingin
menyimpan uang di bank.
Apa boleh di kata, uang yang dikumpulkan sedikit demi sedikit dan di
simpan (baca: dititipkan) ternyata harus hangus hilang entah kemana. Apa
nggak kecewa tuh para nasabahnya. Tak hanya nasabah yang kecewa,
pengusaha perbankan sendiri akan gigit jari. Kenapa keamanan perbankan
bisa begini? (ngelus dada)
Meskipun kejahatan perbankan sudah menjadi kejahatan luar biasa,
lantaran uang yang seharusnya bisa dimanfaakan pada hal yang berguna
bagi pemiliknya, harus hilang secepat kilat tanpa tahu siapa pelakunya.
Hacker kembali menjadi kambing hitam, bahwa kejahatan ini semata-mata
kejahatan mereka. Padahal secara hak, para nasabah selaku konsumen
nasabah, mereka berhak mendapatkan kepastian keamanan uang mereka. Tanpa
bisa ditawar-tawar lagi. Karena mereka sudah membayar biaya (nitip)
dengan sejumlah uang perbulan. Belum lagi setiap transaksi via ATM
mereka pun harus membayar minimal tiga ribu rupiah.
Apakah perbankan bisa mengelak, bahwa kesalahan ini semata-mata karena
kesalahan Hacker?, Atau mencari kambing hitam dengan alasan bahwa pihak
nasabah mendownload aplikasi perbankan yang diduga palsu demi ingin
mencuri data-data nasabah? Alasan klise yang selalu saja diucapkan oleh
para bankir, mereka ingin cuci tangan seolah-olah semua karena
“kebodohan” nasabah. Mendownload dan menggunakan aplikasi palsu. Padahal
tak semua nasabah memahami mana yang asli dan mana yang palsu.
Yang aneh sekali, meskipun bank-bank kita selalu dibobol maling, nasabah selalu mendapatkan getahnya. Bahasaya bodo nya ialah “uang saya disimpan di bank, ketika ilang kog saya lagi yang disalahin? Kepiyo To?” Boleh
saja pihak bank berkilah itu murni kesalahan nasabah, karena bisa
dengan mudah menyerahkan data-datanya, tapi bagi seorang konsumen,
apalagi masyarakat awam dari kampung, mereka akan terperanjat jika
dituduh melakukan kesalahan karena menggunakan aplikasi tak jelas.
Tapi sayang sekali, meskipun pembobolan bank telah terjadi, direktur OJK
menyatakan tidak tahu beritanya. Kenapa mereka yang memiliki otoritas
terkait keamanan uang nasabah bank kog tiba-tiba merasa tak tahu
apa-apa? Apakah ingin cuci tangan juga, lantaran berkali-kali mereka
mengatakan bahwa uang yang disimpan di bank akan aman. Dan setiap
kehilangan tanpa diketahui akan diganti oleh Lembaga Penjamin Simpanan
(LPS). Terus gimana kalau yang punya uang gak bisa ngurus? Ditambah lagi
uangnya sudah hilang, dia justru disalahkan.
Pemblokiran Situs MMM dan Ironi Permbankan di Indonesia
Pemerintah menganggap bahwa usaha arisan MMM, atau bahasa medianya
Manusia Menyumbang Manusia itu dianggap ilegal, tak sah, tak jelas dan
identik merugikan para pengikutnya. Bahkan sikap tegas tersebut
dilontarkan karena begitu banyak pengikut arisan MMM ini yang merasa
kehilangan uangnya. Akhirnya MMM pun ditutup dan dianggap terlarang.
Semua situsnya diblokir oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika
(Kominfo).
Sudah jelas, bahwa MMM memang berpotensi merugikan pengikutnya.
Bagaimana tidak, ketika sudah terlibat bisnis MMM ini, para membernya
dengan mudahnya mentransfer sejumlah uang melalui mekanisme perbankan
tanpa mengetahui siapa yang dikirimi uang, manusia, monyet atau justru
dedemit? Mereka mengirim uang yang jumlahnya jutaan rupiah kepada sosok
ghaib, dengan alasan lagi bahwa mereka harus menyumbang demi mendapatkan
sumbangan kembali. Aneh, mereka menyumbang orang yang semestinya
ikhlas, ternyata berharap uang yang didapatkan lebih besar. Iblis pun
akan tertawa melihat prilaku arisan seperti ini. Menyumbang satu juta
inginnya dapat kiriman lima juta, sedangkan dipihak lain uang yang sudah
disetorkan tak juga kembali. Pantas saja para membernya banyak yang
demo, protes kenapa uang yang ditransfer berharap benefif tak juga
membuahkan hasil.
Maka amat wajar pula bisnis mak jelas ala MMM ini patut dipertanyakan
dan patut dihentikan keberadaannya. Karena benar-benar membangkrutkan
orang banyak. Mereka menipu dengan mendapatkan sumbangan (terpaksa) dari
membernya tanpa embel-embel apapun. Kalau beruntung ya uangnya kembali
dengan mendapatkan kiriman dari sesama member, kalau lagi apes, maka
uangnya akan raib tanpa bisa minta ganti. Ketika mereka melapor
pemerintah pun pemerintah tak bisa menjamin bahwa usaha ini berhak
mendapatkan perlindungan secara hukum. Apalagi mendapatkan ganti,
mustahil keless.
Bagaimana dengan kasus pembobolan bank? Apakah kondisinya sama saja
dengan pembobolan uang nasabah a la bisnis MMM ini? Di satu sisi pihak
Bank merasa uang yang mereka kelola akan aman-aman saja, tapi faktanya
banyak yang bobol digondol maling. Bank mengelak dan banyak uang nasabah
yang tak kembali. Situasi yang kurang lebih sama dengan apa yang
dialami oleh member arisan MMM. Mereka dicuri uangnya dengan “sukarela”
karena alasannya menyumbang, tapi nasabah Bank, mereka kehilangan
uangnya tanpa disadari sebelumnya. Kurang lebih sama modus kehilangannya
tapi teknisnya berbeda.
Dan anehnya, meskipun kasus pencurian uang nasabah ini sudah sering
terjadi, ternyata OJK pun tidak memberikan warning (peringatan pada
pihak bank) bahwa apa yang dialami oleh Bank adalah kelalaian. Sekali
lagi alasannya karena murni kesalahan Hacker dan Nasabah yang begitu
mudahnya menyerahkan data rahasianya. Kalau sudah demikian, berarti gak
ada bedanya antara Bank dengan bisnis yang legal tersebut dengan Arisan
MMM kan? Sama-sama berpotensi merugikan nasabahnya.
Nasib memang nasib, nasi sudah menjadi bubur. Menyimpan uang di bank
kalau sedikit lama-lama habis karena kepotong administrasi, giliran
banyak melayang entah kemana.
Ya sudahlah kita kembalikan pada pemerintah, apakah pemerintah akan
mempertegas aturan dan hukum terkait harta nasabah yang hilang tersebut.
Akan diganti atau justru pemerintah tinggal diam saja dengan apa yang
terjadi. Atau lebih baik menabung saja di kaleng biskuit, ala mbak
Fidiawati. hehe (maa)
Literatur:
Ketika Usaha Rias Pengantin Tradsional dilindas Riasan Modern
| Contoh prosesi rias pengantin tradisional |
Seputar Ekonomi Di tengah pedalaman Kab. Lampung Tengah,
berbatasan dengan Kab. Pesawaran, tepatnya di Kampung Sidokerto Bumiratu
Nuban, perempuan uzur ini masih gagah dan ulet mengelola usaha
rumahannya dalam bidang riasan pengantin. Usaha rintisan semenjak ia
merajut tali pernikahan dengan suaminya yang kini sudah almarhum. Dengan
bermodal warisan dari ibunya yang kini juga sudah tiada, ia mencoba
peruntungan usaha yang sejatinya akan selalu dibutuhkan oleh
lingkungannya. Tentu saja usaha riasan akan selalu diburu oleh para
orang tua yang hendak menikahkan putra putrinya, dan juga menjadi
berburu para calon suami istri. Sebab dengan bantuan ahli rias ini,
kecantikan wajah kedua mempelai semakin berkilau. Yang semula sedikit
gelap, bisa dipermak menjadi semakin ayu dan menggoda. Tentu menggoda
perhatian suaminya dan para tamu undangan yang hadir pada pesta
pernikahan tentunya.
Ibu Fatimah, diusianya yang ke-60 tahun, sudah dibilang sudah usia tak
lagi muda. Ia sudah puluhan tahun mengelola usaha ini ternyata masih
saja memegang teguh konsep adat ketimuran dengan menjaga konsep
pernikahan bagi calon mempelai. Dan bersyukur pada saat itu usaha ibu
ini sangat digemari pelanggannya lantaran make overnya cukup apik, cara
meriasnya juga tak kalah dengan riasan-riasan ahli tata rias yang sudah
kondang mengingat kejelian dalam mengatur pewarnaan. Selain itu, karena
riasannya yang cukup apik, ternyata ongkos rias dan sewa pakaian
pengantin cukup terjangkau menurut kantong orang-orang di sekitarnya.
Motif riasan yang ditawarkan disesuaikan dengan permintaan. Seperti
misalnya riasan pengantin ala Jawa, Sunda, Palembang, Lampung dan
lain-lain yang tentu harga yang ditawarkan sangat murah.
Karena murahnya harga yang ditawarkan, tak hanya warga di sekitar yang
membutuhkan jasanya, mengingat betapa kondangnya nama suami kala itu,
pesanan rias pengantin bisa mencapai berkilo-kilo meter perjalanan. Demi
memenuhi permintaan pelanggan. Tentu semakin jauh pemesannya dan
variasi permintaan si costumer, maka hargapun akan berbeda. Tergantung
pada kesepakatan kedua belah pihak.
Namun demikian, meskipun usaha riasan ini dibilang kelas kampung,
ternyata bisa menjadi salah satu icon usaha rias di Kecamatan Bumiratu
Nuban dan mampu mengumpulkan pundi-pundi uang demi mencari model-model
pakaian terbaru yang disiapkan untuk para calon pengantin.
Itulah harapannya, gak muluk-muluk, dengan usaha yang digelutinya
puluhan tahun itu bisa berkembang dan bisa memenuhi kebutuhan rumah
tangga serta kebutuhan pendidikan anak-anaknya. Kira-kira harapan
sederhananya demikian.
Tapi itu dahulu, ketika riasan tradisional, yang saya sebut dengan
riasan kampung masih jaya-jayanya. Ketika dengan sentuhan tangan trampil
beliau mampu meraih penghasilan 200 sd. 500 ribuan saja ternyata tak
mengurangi omset bulanan kala itu. Hal itu dikarenakan masih sedikitnya
usaha rias pengantin. Berbeda sekali dengan saat ini hampir di pelosok
kampung rias penganting bertumbuh seperti cendawan di musim hujan.
Mereka menawarkan beraneka rupa dan harga serta pelayanan rias yang
bersaing. Bahkan saking bersaingnya, adakalanya di antara perias
pengantin ini rela merogok kocek yang dalam dengan menyewa pakaian
pengantin yang lumayan mahal, demi mendapatkan model terbaru dan disukai
masyarakat di era kekinian.
Coba bandingkan dengan usaha rias pengantin saat ini, si perias
pengantin biasanya tak hanya memenuhi jasa riasan wajah dan pakaian
saja, bahkan sudah menguasai hampir semua kebutuhan pesta perkawinan.
Seperti persiapan tarub, barang pecah belah, sewa organ tunggal atau
hiburan lainnya, sewa tarub dan panggung, mesin genset, dan pakaian
perias tarub yang disediakan oleh si perias tersebut. Bahkan untuk
urusan undangan juga di back up oleh satu orang dengan menggandeng
kerjasama dengan pengusaha lainnya. Sebuah usaha tata rias yang cukup
menyita modal tapi keuntungan maksimal.
Itulah usaha rias pengantin saat ini, mereka berani mengeluarkan modal
yang cukup besar demi memenuhi kebutuhan model riasan penganitin saat
ini. Tak hanya gaya ala ketimuran (keindonesiaan) karena mereka juga
menggunakan motif eropa atau amerika yang dianggap lebih modern.
| Riasan modern |
Kondisi modernisasi usaha rias pengantin ternyata turut memicu
melorotnya usaha riasan Bu Fatimah, konsumen yang awalnya menjadi
pelanggan tetap dan selalu memesan tatkala keluarganya hendak
melangsungkan perkawinan, kini terpaksa diambil pengusaha lain. Ia hanya
bisa pasrah dengan keadaan, lantaran usaha untuk mengembangkan usaha
rias pengantin yang digelutinya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Bisa mencapai puluhan juta rupiah, apalagi konsep yang tawarkan bermodel
ala kebarat-baratan atau mengadopsi ala Eropa dan Amerika. Tentu biaya
yang dibutuhkan bisa mencapai ratusan juta rupiah. Bahkan saat ini
riasan pengantin banyak pula yang mengadobsi model pernikahan Tionghoa
yang juga pernak-perniknya yang cukup malah.
Karena ketidak mampuan memenuhi kebutuhan modernisasi riasan pengantin
ternyata juga menjadi pemicu bagaimana sulitnya bersaing dengan para
pengusaha dengan permodalan yang mencukupi. Ditambah lagi karena usia
yang semakin lama semakin bertambah yang juga menjadi pemicu menurunnya
kesiapan dirinya dalam memenuhi permintaan. Bukan permintaan menurun,
tapi kemampuan memenuhi pesanan itu yang menjadi pemicunya. Hal itu
disebabkan karena usia yang tak lagi muda. Selain itu anak-anak yang
sedianya bisa menjadi penerus usaha rias pengantin tradisional ini
ternyata berbelok arah. Mereka enggan meneruskan usaha orang tuanya.
Sudah dapat dipastikan secara perlahan usaha ini akan gulung tikar.
Apalagi saat ini, riasan pengantin daerah yang tengah boomingnya nilai
sewanya juga puluhan hingga ratusan juta rupiah. Sebanding dengan harga
yang ditawarkan berdasarkan kelas-kelasnya.
Meskipun usaha riasan pengantin ini beresiko bangkrut dan sepi
pelanggan, tapi tak ada kata berhenti dan menyerah dengan keadaan. Dan
meski di usia tak lagi muda, ia tetap meneruskan usahanya ini di
sela-sela usaha warung kecilnya. Dengan semangat gotong royong”membantu”
ia tetap memenuhi permintaan calon pengantin baru dengan harga yang tak
sesuai dengan nilai rupiah saat ini.
Namun yang pasti, harapan beliau, ia tak melulu hanya mengejar
pendapatan dari rias pengantin ini. Akan tetapi tekad yang kuat ingin
melestarikan budaya leluhur, budaya tradisional ketimuran ala rias
pengantin ini hingga ajal menjemput. (maa)
(maa)
Kamis, 25 Desember 2014
Waspada BMT Berkedok Investasi Abal-abal Menipu Nasabahnya
SeputarEkonomi. Siapa yang tak ingin mendapatkan keuntungan besar dari usaha yang dijalankan? Tentu setiap orang menginginkannya bukan? Tak hanya kalangan perlente, kalangan masyarakat yang hidup sederhana pun menginginkan kehidupan yang semakin meningkat taraf ekonominya.
Dengan bermacam-macam impian yang ingin diraih, di antara pemilik modal tersebut ingin mendapatkan untung ketika uangnya diinvestasikan. Alih-alih mendapatkan keuntungan yang besar, ternyata uang yang ditabung dan diinvestasikan sedikit demi sedikit mesti musnah, kandas dibawa kabur si pemilik usaha.
Seperti yang dikutip dari lampung post edisi 22 Desember 2014. Sejumlah nasabah BMT Bima Sakti Mandiri menelan kekecewaan lantaran uang yang diinvestasikan musnah dibawa kabur pengelolanya. Tak ayal, akumulasi uang sedianya sebesar 335 juta lebih dibawa oleh manajer dan pimpinan BMT tersebut.
Pada awalnya BMT Bima Sakti Mandiri tidak menunjukkan gelagat mencurigakan. Karena sejak berdirinya cukup membuat masyarakat setempat percaya. Tentu saja karena nama lembaga keuangan tersebut berjuluk BMT (Baitul Maal Wa Tamwil) Lembaga keuangan syariah, yang notabene dikelola berdasarkan syariah Islam. BMT yang didirikan di daerah Palas Lampung Selatan ini mampu menjaring nasabah yang cukup banyak. Bahkan dari sumber yang sama anggotanya tidak hanya berasal dari Palas semata, akan tetapi berasal beberapa daerah di sekitarnya.
Tapi lagi-lagi, sebuah lembaga dengan kedok apapun tidak akan menjamin keamanan nasabah. Apalagi jika jenis usaha dan bagi hasilnya tidak masuk di akal. Semua menjanjikan keuntungan yang besar tapi justru menjerumuskan nasabahnya lantaran tidak sesuai dengan aturan pengelolaan keuangan yang berlaku menurt aturan BMT.
Adapun siasat agar tidak tertipu investasi bodong silahkan buka link ini.
Sabtu, 08 November 2014
Hari Pangan Sedunia, Momentum Membangun Kedaulatan Pangan Indonesia
Beberapa pekan yang lalu, bertepatan 16 Oktober dirayakannya hari pangan
sedunia. Di mana pada saat itu didirikannya organisasi pangan dan pertanian,
Food and Agriculture Organization ( FAO) dan pada saat itulah dunia merayakan
momentum keberhasilannya menciptakan sumber pangan bagi umat manusia. Tapi, perayaan
tersebut ternyata tidak melulu dinikmati oleh semua orang.
Alasannya
pokok adalah karena saat inipun masih ada saja bangsa-bangsa yang dilanda
kelaparan, bahkan berada pada garis kemiskinan yang luar biasa. Seperti di
negara bagian Afrika Selatan, yang setiap harinya kesulitan mencari sumber
makanan. Tak terkecuali negara Indonesia yang “katanya” tanah kita tanah surga
di mana semua orang bisa bercocok tanam ternyata tidak sedikit yang mengalami
busung lapar.
Tidak
sedikit warga negara ini yang tinggal dalam gubuk yang reot, tak layak dan
menikmati makanan sehari-hari dari hasil hutan yang tentu saja jauh dari kata
lezat seperti apa yang dialami sebagian masyarakat Papua. Adapula yang musti
berebut ketika pembagian daging kurban lantaran tidak biasa menikmati makanan
yang mahal. Tapi itulah bangsaku, meski sudah 68 tahun merdeka ternyata
rakyatnya masih saja belum merdeka, mereka harus tetap berjuang, berperang dari
laparnya perut dan hausnya tenggorokan karena sulitnya mencari bahan makanan
dan sumber air yang bersih.
Jika
menelaah begitu banyaknya sumber pangan di Indonesia, Indonesia memiliki sumber
daya alam yang sepertinya tidak terbatas karena dapat menghasilkan bahan
makanan, tidak hanya buminya yang subur akan tetapi sumber daya manusianya yang
dapat menghasilkan menu masakan yang diakui tingkat dunia. Sebut saja sate,
baso, nasi goreng yang telah merajai lidah-lidah para pelancong bahkan
masyarakat mancanegara. Hal ini sebenarnya sebagai basis yang memungkinkan
Indonesia dapat memenuhi kebutuhan bahan pangan dari yang bertaraf tradisional
sampai yang berkelas internasional.
Tapi apalah
daya, meski Indonesia tanahnya luas dan subur, di dalamnya dipenuhi
tanaman-tanaman yang bermanfaat untuk semua orang namun ternyata di dalamnya
masih banyak masyarakat kita yang merasakan kelaparan, sulitnya menikmati
gurihnya nasi beras, lezatnya daging, manisnya buah-buahan dan segarnya susu
yang seharusnya dapat dihasilkan dari tanah sendiri. Akan tetapi justru kita
hanya bisa menikmati hasil negara lain tanpa bisa menanam, kita hanya bisa
membeli tanpa bisa memproduksi. Imbasnya meskipun negara ini dijuluki loh
jinawi ternyata tidak berlaku bagi penduduk negeri ini.
Bahan pangan
kita peroleh dari import, termasuk hampir semua jenis buah-buahan, sayuran, bahkan
beraspun yang dahulunya kita dapat berswasembada saat ini tinggal gigit jari
karena sebagian tanah pertaniannya sudah menjadi gedung-gedung bertingkat,
berganti mall yang ternyata hanya sekelompok orang saja yang dapat menikmatinya
lantaran mahalnya harga-harga pembelian.
Meskipun
kita dapat menghasilkan sawit sebagai bahan baku minyak makan, ternyata kitapun
menikmati yang kelas dua selebihnya dijual ke negara lain. Laut kita
menghasilkan ikan yang berkualitas tapi sebagian besar dijual ke luar negeri
sedangkan kita hanya menikmati ikan asin. Sebut saja ikan tuna dengan gizi yang
tinggi saat ini menjadi bahan makanan bagi kalangan elit.
Sungguh
ironi di negara yang sumber pangannya merupakan separuh dari sumber pangan
dunia malah sekarang harus kehilangan mata pencahariannya dan
penghasilannya lantaran tidak mampu menghasilkan bahan makanan dengan kualitas
terbaik tapi justru mengandalkan produk import yang terkadang berkualitas
rendah tapi mahal harganya.
Memperingati
hari pangan sedunia, hakekatnya sebagai momentum agar bangsa Indonesia dapat
menciptakan sumber pangan, paling tidak menjadi pemasok bahan pangan bagi
warganya tanpa bergantung dari bangsa lain. Pada hari ini pula, sebagai langkah
untuk menciptakan kreasi baru makanan rakyat berkelas dunia.
Hari pangan
sedunia hakekatnya membangun kesadaran bangsa ini agar bangun dari mimpi dan
beranjak dari tidurnya untuk kembali berbuat terhadap ketersediaan pangan
nasional agar tidak ada lagi bagian bangsa ini yang kelaparan dan terkena
busung lapar akibat kekurangan gizi dan bahan makanan yang sehat.
Hari Pangan Sedunia (16 Oktober)
Langganan:
Komentar (Atom)




